Ribuan Jamaah Resmikan Masjid Raya Sumbar

Ribuan Jamaah Resmikan Masjid Raya Sumbar

Hidayatullah.com-Kendati  pembangunan belum tuntas seratus persen,  Masjid Raya Sumbar, masjid  terbesar di  provinsi Sumatera Barat, secara resmi difungsikan mulai Jumat (07/02/2014).

Peresmian  ditandai dengan shalat Jumat perdana. Setidaknya, tiga ribu jamaah ikut menunaikan shalat Jumat bersama Gubernur  H Irwan Prayitno dan sejumlah pejabat.  Ketua MUI Sumbar Syamsul Bahri Khatib sebagai khatib Jumat.

Gubernur Sumbar menyatakan,  mulai jumatan perdana ini, Masjid Raya Sumbar seterusnya akan dimanfaatkan untuk shalat berjamaah, shalat Jumat dan aktivitas keislaman lainnya  oleh umat.

Untuk kelanjutan pembangunannya, Pemprov Sumbar  telah mengalokasikan anggaran Rp18 miliar lebih pada APBD 2014 ini.

“Pembangunan Masjid kebanggan Sumbar ini terus dilanjutkan secara bertahap  dengan pengalokasian APBD  setiap tahunnya sampai  benar-benar tuntas. Namun tetap dibutuhkan juga sumbangan dari para donatur dan  bantuan dalam bentuk lainnya, seperti bantuan karpet dari Turki  yang baru tiba,” ujar Irwan.

Sedangkan Wakil Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy  menyatakan  untuk merampungkan seluruh bangunan masjid dan sarana pendukungnya,  memerlukan biaya sebesar Rp440 miliar.

Setelah bangunan masjid siap, maka akan akan dibangun lagi menara masjid. Menara itu, akan dipadukan dengan corak menara Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Selain itu, juga akan dibangun  Islamic Center.

Masjid Raya ini  terletak di kawasan Khatib Sulaiman kota Padang,  dibangun di atas tanah luas 40,9 hektare. Peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumbar,  ketika itu, Gamawan Fauzi.

Untuk saat ini,  masjid ini   merupakan  terbesar di Sumbar.

Masjid ini dibangun merujuk  desain arsitek Rizal Mus­li­­min setelah ia memenangkan sayembara  desain masjid yang diikuti 32­3 peserta dari berbagai negara. *

Rep: D. Nurja

Editor: Cholis Akbar

Tazkiyatun al-Nafs, Syarat mencari Ilmu Copy

 Tazkiyatun al-Nafs, Syarat mencari Ilmu Copy

oleh: Muhammad Saad

KARENA tujuan ilmu dalam Islam sangat mulia, yaitu untuk mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka syarat untuk meraihnya pun sangat ketat.

Syarat mencari ilmu merupakan bagian adab dari mencari ilmu. Di antara syarat utama mencari ilmu adalah pembersihan diri dari dosa-dosa yang bisa menghalangi kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Tazkiyatun al-Nafs, Syarat mencari Ilmu

 Tazkiyatun al-Nafs, Syarat mencari Ilmu

oleh: Muhammad Saad

KARENA tujuan ilmu dalam Islam sangat mulia, yaitu untuk mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka syarat untuk meraihnya pun sangat ketat.

Syarat mencari ilmu merupakan bagian adab dari mencari ilmu. Di antara syarat utama mencari ilmu adalah pembersihan diri dari dosa-dosa yang bisa menghalangi kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyusun adab menuntut ilmu bagi diri seorang peserta didik sebanyak sepuluh, diataranya: mensucikan diri dari akhlaq tercela, mengurangi ketergantungan sibuk pada perihal dunia, tidak boleh sombong kepada guru, menghindari perselisihan dan perdebatan di awal menuntut ilmu dan masih banyak lainnya.

Syaikh Hasyim Asyari dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim juga menyebutkan adab peserta didik pada diri sendiri juga ada sepuluh. Uniknya baik Imam al-Ghazali maupun syaikh Hasyim Asyari (dan mungkin juga ulama yang lain) menjadikan pemberisihan hati (tazkiyat al-Nafs) pada level yang utama. Ini memberikan penjelasan bahwa kebersihan hati adalah syarat mutlak agar seseorang mendapatkan ilmu yang manfaat.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa sesungguhnya aktivitas menuntut ilmu adalah aktivitas hati, sholat yang samar dan ibadah batin kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana sholat tidak  sah tanpa kebersihan jasad dari hadats dan najis, begitu pula mencari ilmu tidak sah tanpa kebersihan batin dari kotoran akhlaq dan najisnya sifat. Sekiranya, hati tercemari dengan unsur-unsur negatif yang dapat merusak kemurnian hati, hal ini bisa menyebabkan sukar menerima ilmu. Karena pada dasarnya ilmu bersifat suci. (Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, hal. 26).

Senada dengan Imam al-Ghazali, Pendiri NU, KH Hasyim Asyari menyatakan agar ilmu dapat diterima, dapat dihafalkan, dan diketahui halusnya makna ilmu itu , serta  dapat memahamai rahasia dari ilmu. Maka hal utama yang harus dilakukan oleh seorang murid adalah membersihkan hati dari penyakit seperti dusta, unek-unek dan iri hati. Bahkan Kiai Hasyim menyebutkan, aqidah sesat juga merupakan penyakit hati, karenanya harus dibersihkan pula. (Syaikh Hasyim Asy’ari: Adab al-Alim wa al-Muta’alim, hal. 24)

Proses Ta’ziyatu al-Nafs

Karena takzitaun nafs adalah pembersihan diri dari dosa-dosa baik yang dhohir maupun batin, maka langkah awal yang harus dilakukan ialah taubat.  Menurut Imam Abdullah al-Haddad taubat adalah hal pertama yang dilakukan seorang hambah dalam meniti jalan menuju Allah, taubat juga merupakan azas dari segala maqam (kedudukan). (Imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad, Risalah al-Muaawanah, hal. 17).

Perlu diingat bahwa proses pertaubatan adalah bagaian dari kewajiban seorang hamba, sebagaimana tersebut dalam Surat al-Nur: 31 artinya: “…dan bertaubatlah kamu semuanya kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.

Taubat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah  taubat dari segala sifat dan perbuatan tercela baik dhohir maupun batin, baik dosa kecil terlebih diosa besar.

Di antara dosa-dosa kecil dan besar yang harus dibersihkan adalah dosa  menjaga makanan dari baram haram bahkan syubhat. Mengucapkan, melihat dan mendengar perkara yang diharamkan semisal: menggunjing, berbohong dan melihat wanita bukan muhrim. Adapun  dosa besar amalan bathin semisal riya’, ujub (bangga diri), takabbur (sombong,) hasad (iri hati), namimah (adu domba) dan lain sebagianya.

Syarat taubat adalah memohon ampun kepada Allah (beristighfar), menyesal dan berazam tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut. Jika dosa itu ada hubungannya dengan hak manusia, maka harus mengembalikan hak-hak tersebut.

Strategi taubat, pertama  untuk bisa merasakan penyesalan terhadap dosa yang kita perbuat, maka harus mengetahui seberapa besar resiko yang kita tanggung atas perbuatan yang kita langgar. Oleh karenanya dibutuhkan ilmu untuk mengetahui setiap perbuatan dosa dan resikonya.

Contoh: Dosa riya’ (beramal bukan karena Allah). Seberapa besar dosa riya’ dan apa resiko bagi pelakunya?. Syeikh Zayn al-Din al-Malaybari dalam kitab Irsyad al-Ibad menjelaskan bahwa dosa riya’ adalah dosa besar dan merupakan dosa syirik kecil. Imam Nawawi dalam kitab Arba’innya menjelaskan bahwa Allah akan mengampuni dosa besar seorang hamba meski dosa itu bak tujuh lapis bumi dan langit, atau bahkan lebih. Asalakan jangan dosa syrik meski sebesar inti atom.

Dengan mengetahui resiko dosa riya’, maka kita akan merasa takut, kemudian akan timbul rasa penyesalan yang mendalam dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.

Mengetahui hakikat dosa dan resikonya ini berlaku bagi semua dosa yang ada. Tidak ada cara lain untuk memperoleh pengetahuian ini kecuali dengan ta’lim (ngaji) kitab-kitab ulama salaf al-Shalih seperti kitab Ihya ulumuddin karaya Imam al-Ghazali, Nashaih al-Ibad  karya Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, Irsyad al-Ibad karya Syaikh Zayn al-Din al-Malaybari dan masih banyak untuk disebutkan.

Strategi kedua, agar bisa mengetahui seberapa banyak dosa yang kita perbuat, maka muhasabah adalah solusinya. Sahabat Umar bin Khatthab dalam atsarnya mengatakan”hasibu anfusakum qabla an tuhasabu” (hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab). Hal ini bisa dilakukan dengan mencatat dosa-dosa kita dari dosa yang kecil sampai dosa yang besar. Barulah kemudian dimohonkan ampunan semua dosa yang tercatat tersebut.

Strategi ketiga, tajdidu al-taubah (memperbarui taubat). Imam Abullah bin Alwi al-Haddad berkata “hendaknya seseorang memperbarui taubat  setiap saat, sebab seorang hamba tidak sepi dari maksiat dhohir maupun bathin, oleh karenanya dosanya pasti banyak. Sesungguhnya Rasulullah dengan kemaksumannya bertaubat kepada Allah dan bersitghfar setiap hari sebanyak 70 kali”. (Imam Abdullah bin Awli al-Haddad, Risalah al-Muawanah, hal. 17)

Setelah membersihkan diri dengan taubat, langkah selanjutnya untuk takziyatu al-nafs adalah mengisi dan membiasakan diri dengan akhlak al-karimah semisal tawadhu (rendah hati) yang berguna mengikis takabbur dan memadamkan api kemarahan.  Neriman dengan yang ada dan cukup atas pemberian rizki atau nikmat dari Allah swt (qana’ah) ,menjaga diri dari hal yang syubhat& meninggalkan yang haram (wara’). Dan lain sebagainya.

Bahkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim, Syaikh Zarnuji membahas satu bab khusus tentang wara’ dalam ilmu. Orang yang wara’ dalam mencari ilmu, maka ilmunya akan bermanfaat dan barakah, serta mudah dalam mempelajarinya.

Dalam bab tersebut, Syaikh Zarnuji menyitir Hadist Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang tidak wara’ ketika mencari ilmu, maka ia akan terkena salah satu dari tiga bencana, yaitu ia akan mati dalam keadaan muda, ditempatkan pada satu kaum yang jahil, dan atau menjadi budak pemerintah.

Masih menurut syaikh Zarnuji bagian dari wara’ dalam belajar ialah menjaga diri dari perut kenyang (yahtariz ‘an al-Syiba’), banyak tidur (katsrat al-naum), banyak bicara (katsat al-kalam), dan sebisanya tidak memakan makanan di pasar sebab makanan di pasar lebih dekat pada najis dan kotor. Hal ini bisa menyebabkan jauh ingat pada Allah dan dekat pada kelupaan. (Syaikh Zarnuji, Ta’lim Muta’alim, hal. 39).

Kesimpulan

Hakikat ilmu adalah suci, oleh karenanya untuk mendapatkannya pun harus keadaan suci. Kesucian dalam mencari ilmu hanya bisa diperoleh dengan tazkiyatu al-nafs dengan bertaubat dan berkhlakul karimah. Diantara akhlak al-Karimah adalah tawadhu’, qana’ah , wara’ dan lain sebaginya.*

Penulis adalah alumni Mahasiswa STIT Uluwiyyah  Mojosari-Jawa Timur dan Santri Alumni PP. Adaamul Ulama’- Pandaan-Jawa Timur

Santri Hidayatullah Didorong Tekuni Citizen Journalism

Santri Hidayatullah Didorong Tekuni Citizen Journalism

depdik-Hidayatullah.net – Berita yang mengandung fitnah itu seringkali berdampak luas. Berita fitnah tidak mencerdaskan bangsa tetapi justru malah membodohi bangsa. Sehingga penting bagi kaum muda Muslim untuk terjun ke kancah jurnalistik atau lebih dari itu menekuni citizen journalism.

Demikian dikatakan mantan wartawan perang Irak Meutya Viada Hafid saat melatih tekhnik jurnalistik para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014).

Disinilah, kata Meutya, pentingnya generasi muda Islam khususnya santri Hidayatullah untuk menguasai jurnalistik agar jangan non-muslim saja yang menguasainya, sehingga diperlukan keseriusan mencetak jurnalis muda muslim untuk menguasai Media.

“Hari ini kita menyaksikan bahwa perusahaan-perusahaan media lebih banyak dimiliki oleh kalangan non-muslim sehingga pemberitaan-pemberitaan yang ada, misalnya mengenai terorisme cenderung mendiskreditkan Islam,” kata mantan wartawan sejumlah televisis swasta ini.

Oleh karena itu, menurut Meutya, ummat Islam harus menguasai media supaya pemberitaan tentang Islam menjadi berimbang dan jangan sampai kita tidak perduli sama sekali, imbuhnya.

Dalam pelatihan yang dihadiri sedikitnya 200 santri Hidayatullah Medan ini Meutya Hafid membawakan materi dengan suasana belajar yang santai, fun, dan penuh canda. Dalam kegiatan itu Meutya Hafid juga menjelaskan tentang arti dan seluk beluk Jurnalistik dikaitkan dengan sejumlah pengalaman dia selama menjadi pewarta nasional dan luar negeri.

“Seorang jurnalis adalah seseorang yang secara teratur menulis berita berupa laporan yang kemudian dimuat di Media massa. Jika ada yang mengaku sebagai jurnalis tetapi tidak pernah melihat tulisannya dimuat di media, berarti dia adalah bohong,” kata Meutya.

Kendati demikian, Meutya menegaskan bahwa saat ini telah berkembang tradisi baru dalam dunia pewartaan yakni Citizen Journalism atau jurnalisme warga, yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi jurnalis non mainstream.

Citizen Jourlaism menurut Meutya ke depan menjadi penting. Ia mencontohkan, kita sering melihat ada berita televisi kiriman dari warga. Sehingga ia memandang kedepan mungkin semua stasiun televisi harus punya kanal Citizen Journalizm, kolom atau rubrik yang diberikan kepada pemirsa atau pembaca untuk memberikan beritanya, karena kedepan masyarakat ingin berbicara, urun rembug ikut serta untuk memberikan informasi.

“Hal ini penting karena bisa menjembatani keterbatasan jurnalis dalam meliput semua kejadian atau peristiwa yang sewaktu–waktu terjadi diluar dugaan, prediksi dan jangkauan wartawan,” terangnya yang mengenakan jilbab merah jambu.

Disamping itu hal, kata dia, ini bisa menghindari sentralistik dalam pemberitaan, misalnya setiap hari yang ada hanya berita tentang banjir yang melanda Jakarta saja. Padahal wilayah Indonesia ini luas. Maka harus ada warga yang bisa merekam kejadian-kejadian di sekelilingnya dan mengirimkannya kepada media untuk diberitakan.

Soal liputan peran penting jurnalisme warga, Meutya mencontohkan ketika terjadi tsunami di Aceh. Pada saat awal terjadinya, tak seorangpun dari kalangan wartawan yang hadir di sana. Karena sesungguhnya tak satupun wartawan yang bisa memprediksi sebuah kejadian bencana seperti itu.

Kata Meutya, jurnalisme warga itu terjadi karena ada warga yang bukan berprofesi sebagai wartawan, namun karena memiliki kepekaan terhadap peristiwa yang ada dilingkungannya, dia memiliki insting kewartawanan, kemudian merekam peristiwa-peristiwa penting yang disaksikannya, kemudian melaui bantuan wartawan atau membawanya sendiri ke media untuk disebarluaskan, maka itulah yang disebut Citizen Jurnalizm.

“Maka sebenarnya citizen journalism itu penting kita miliki juga untuk merekam peristiwa diluar jangkauan para wartawan dan itu sangat berguna bagi masyarakat dan membantu tugas para wartawan dan media,” tukasnya. (cha/hio)

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search

About us

About Uskamia adalah pencoba

Our Sponsors

advertisement advertisement advertisement